Friday, February 13, 2015
Suburnya bisnis Guest's House di kota Parijs Van Java
Suburnya bisnis Guest's House di kota Parijs Van Java
Sebagai pribadi yang besar di Kota Bandung, menarik melihat perkembangan pesat yang dialami Bandung dalam hal ini sektor pariwisata, sektor besar yang telah menjadi bisnis tumpuan bagi sebagian besar masyarakat kota ini yang sekarang sudah sadar,kalau Bandung telah menjadi Kota Wisata yang potensial.
Kenapa potensial? Salah satu penyebab utamanya adalah letak geografis kota ini yang dekat dengan Ibukota Indonesia, Jakarta, tempat dimana hampir seluruh perputaran uang nasional ada di Ibukota tsb.
Warga Ibukota membutuhkan pelarian sejenak diakhir pekan dari segala rutinitas kerjanya dan Bandung bisa menawarkan pelarian itu, dengan iklim geografis yang sejuk dan semakin menjamurnya tempat-tempat wisata di berbagai penjuru Kota.
Sebab lainnya yaitu frekuensi penerbangan internasional dan domestik yang semakin bertambah ke kota Bandung, sudah jadi rahasia umum kalau wisatawan Singapura dan Malaysia sekarang melirik Bandung juga sebagai tujuan utamanya, "buat mereka, belum gaul rasanya kalau belum mengunjungi Bandung"; kata Ridwan Kamil yang juga tokoh pemerhati Kota ini.
Saya yang sekarang ini adalah mahasiswa jurusan perhotelan pun mau tidak mau meneliti fenomena ini, dan satu hal yang menarik yaitu tentang bisnis akomodasi di Bandung, banyaknya pilihan tempat menginap dari mulai kelas melati sampai bintang lima brand internasional ada di sini. Tapi sekilas kalau kita lihat, tingkat hunian kamar kota Bandung ini relatif sepi saat weekday dan selalu tinggi dikala weekend. Jika dibuat grafiknya, alurnya akan naik dan turun sesuai harinya.
Dalam artian, memang Kota ini baru benar-benar hidup dan ramai oleh turis dimulai dari hari Jumat sore hingga Minggu sore, setelah melalui pengamatan-pengamatan, didapat kalau turis-turis ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka diluar hotel mereka menginap, jadi hotel hanya mereka gunakan hanya untuk tidur dan menyimpan barang-barang bawaan mereka.
Melalui gejala inilah, ada 1 bisnis akomodasi yang sekarang sedang trend di kawasan Bandung Utara khususnya, yaitu akomodasi Guest House, sekilas seperti rumah besar jaman peninggalan Belanda atau rumah-rumah besar & tua lainnya, tapi dialihfungsikan menjadi tempat akomodasi tamu menginap.
Keuntungannya? Saya pribadi sebagai yang pernah mencoba tinggal, berpendapat ini murah, kisaran 200rban-300rban tergantung hari, lokasinya strategis,ukuran kamarnya cukup luas, fasilitas kamarnya cukup sekelas hotel bintang 3; air panas,tv cable,AC,dsb dan rasanya seperti tinggal di rumah saja.
Kecenderungan untuk wisatawan yang tidak banyak menghabiskan waktu dalam hotel tentu akan berpikir, kenapa harus membayar lebih untuk fasilitas-fasilitas hotel yang belum tentu digunakan karena aktifitas banyak dilakukan diluar.
Walau harga murah, pangsa pasarnya tidak hanya menengah kebawah, saya pribadi mengamati justru tamu kota-kota besar berplat mobil B, dari mobil kelas menengah hingga mewah yang tinggal disana.
Cerdik memang, sang pemilik rumah melihat peluang ini dan menjadikan properti nya sebagai badan usaha akomodasi, karena memang tidak semua rumah-rumah besar ini pemiliknya orang Bandung, tapi orang-orang luar kota khususnya Jakarta yang menjadikannya sebagai rumah peristirahatan dan investasi properti.
Saya sendiri melihat, badan usaha akomodasi 'guest house' ini musti perlu sedikit dibenahi khususnya dalam hal tenaga kerja, yang mana sebagian besar dari mereka sebenarnya adalah pegawai rumah majikannya sebelum dijadikan guest house sehingga masih kurangnya aspek sadar pelayanan, dan juga hak mereka untuk mendapatkan tunjangan pelayanan atau service point sebagaimana mestinya standard bisnis akomodasi lainnya dalam hal tenaga kerja.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment